<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ashshuhuf</title>
	<atom:link href="http://ashshuhuf.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ashshuhuf.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com site</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Jan 2012 04:42:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ashshuhuf.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>ashshuhuf</title>
		<link>http://ashshuhuf.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ashshuhuf.wordpress.com/osd.xml" title="ashshuhuf" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ashshuhuf.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Halal, Haram dan Syubhat</title>
		<link>http://ashshuhuf.wordpress.com/2012/01/23/halal-haram-dan-syubhat/</link>
		<comments>http://ashshuhuf.wordpress.com/2012/01/23/halal-haram-dan-syubhat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 04:42:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ashshuhuf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ashshuhuf.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى  الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashshuhuf.wordpress.com&amp;blog=30493027&amp;post=23&amp;subd=ashshuhuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align:center;">عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى  الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ  لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ   مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ  أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ</p>
<p style="text-align:center;" dir="RTL" align="center">[رواه البخاري ومسلم]</p>
</blockquote>
<p>“Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar (syubhat), yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barangsiapa yang menghindari syubhat itu berarti dia telah membersihkan diri untuk agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus ke dalam syubhat itu berarti dia terjerumus ke dalam perkara yang haram, seperti seorang penggembala yang menggembalakan (binatang ternaknya) di sekitar daerah terlarang, hampir-hampir dia akan masuk menggembalakan (binatang ternaknya) di daerah tersebut. Ketahuilah, bahwa setiap raja memiliki daerah terlarang. Ketahuilah bahwa daerah terlarang milik Allah adalah perkara-perkara yang haram. Ketahuilah, bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka akan menjadi baik seluruh tubuh, dan jika buruk menjadi buruklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa itu adalah hati.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Mari kita renungkan sejenak. Sebagai hamba Allah, kita dituntut untuk berlaku, berbuat dan beraktivitas sesuai dengan aturan-aturan Allah. Ini adalah sesuatu hal yang wajar dan maklum. Nah, ternyata hadits yang mulia ini telah menjelaskan secara lengkap hukum dari segala sesuatu yang kita hadapi. Yang mana dengan mengetahui hukum-hukum itu kita bisa bertindak sesuai dengan aturan Allah. Tanpa mengetahuinya, kita akan bingung dan tentu saja tidak akan bisa bertindak sesuai dengan aturan Allah.</p>
<p>Hadits di atas menjelaskan secara garis besar bahwa segala perkara yang kita hadapi tidak bisa lepas dari salah satu tiga keadaan.</p>
<p>Pertama, sesuatu yang jelas kehalalannya dan diketahui oleh setiap orang. Seperti halalnya buah-buahan, biji-bijian, jual beli yang jelas, pakaian-pakaian yang tidak menyelisihi syariat, dan lain-lain banyak sekali tanpa bisa dibatasi.</p>
<p>Kedua, sesuatu yang jelas keharamannya dan diketahui oleh setiap orang. Seperti haramnya riba, perjudian, zina, pencurian, minuman khamr, bangkai, darah, daging babi, dan lain sebagainya.</p>
<p>Ketiga, perkara-perkara yang samar, tidak diketahui oleh banyak orang apakah ia termasuk perkara yang halal atau perkara yang haram, meskipun orang lain mengetahui bahwa ia termasuk halal atau haram. Contohnya, seperti makanan, minuman atau hal lain yang diperselisihkan kehalalan atau keharamannya oleh para ulama. Golongan ketiga inilah yang akan sedikit kita bicarakan di sini.</p>
<p><strong>Maksud dan Penyebab Kesamaran (Syubhat)</strong></p>
<p>Sesungguhnya apa yang Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggalkan untuk umat ini berupa perkara yang halal ataupun yang haram telah dijelaskan. Hanya saja penjelasan dari hal itu berbeda-beda tingkat kejelasannya. Sebagian dari perkara-perkara itu ada yang sangat gamblang penjelasannya, jelas dan mudah dipahami oleh seluruh manusia sehingga jelaslah perkara itu apakah termasuk yang halal atau yang haram. Namun sebagian yang lain lebih rendah tingkat kejelasannya sehingga menimbulkan kesamaran bagi sebagian orang, terutama yang tidak memiliki modal ilmu untuk memahami penjelasan tersebut.</p>
<p>Disamping itu, banyak sekali perkara-perkara yang jika dilihat dari satu sisi memiliki kedekatan dengan perkara yang haram tapi dari sisi lain memiliki kedekatan dengan perkara yang dihalalkan. Sehingga jadilah keraguan untuk menetapkan apakah perkara ini termasuk perkara yang halal atau haram.</p>
<p>Secara umum, kesamaran hukum suatu perkara itu bisa ditimbulkan karena kesamaran yang terjadi pada salah satu dari dua sebab atau karena keduanya. Pertama karena kesamaran dalil yang menunjukkan keharaman atau kehalalan. Baik karena kesamaran dalam keabsahan dalil, atau karena kesamaran pada ketegasan dalil dalam menunjukkan keharaman atau kehalalan perkara yang dimaksud. Dan sebab kedua adalah kesamaran dalam hal kecocokan atau ketepatan perkara yang akan dihukumi dengan dalil yang menunjukkan keharaman atau kehalalan.</p>
<p>Dari sinilah timbul berbagai kesamaran hukum pada banyak perkara, apakah ia merupakan hal yang halal atau hal yang haram. Kesamaran seperti inilah yang dimaksud dengan syubhat antara halal dan haram yang disebutkan dalam hadits di atas. Karena pada hakikatnya, semua perkara itu hanya ada dua hukum saja yaitu halal atau haram.</p>
<p>Dan penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa perkara-perkara yang samar (syubhat) tidak diketahui oleh banyak manusia, menunjukkan bahwa ada banyak manusia lain yang mengetahui hakikat perkara ini apakah termasuk halal ataukah haram. Sehingga, perkara syubhat itu bersifat relatif, yakni samar bagi sebagian orang namun tidak bagi yang lain. Atau samar bagi sebagian orang dalam jangka waktu tertentu sampai akhirnya perkara itu menjadi jelas karena adanya keterangan-keterangan yang menunjukkan pada hukum yang sebenarnya.</p>
<p><strong>Bagaimana menyikapi?</strong></p>
<p>Sesuatu yang telah jelas kehalalannya atau keharamannya, maka jelas pula bagi kita bagaimana menyikapinya. Karena yang halal tentu saja boleh kita lakukan sedangkan yang haram harus kita tinggalkan. Oleh karena itu, ketika syubhat itu bersifat relatif, sebagaimana dijelaskan di atas, maka bagi orang yang telah mengetahui hakikat suatu perkara apakah termasuk yang halal atau haram, meskipun perkara itu bagi orang lain termasuk syubhat, dia harus menyikapinya sesuai dengan hukum yang dia ketahui. Jika haram maka dia tinggalkan namun jika halal berarti dia boleh mengambilnya.</p>
<p>Adapun bagi orang yang memiliki kesamaran hukum pada suatu perkara tertentu, maka hadits di atas telah memberikan bimbingan dan pengarahan yang jelas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maka siapa yang menghindari syubhat itu berarti dia telah membersihkan diri untuk agama dan kehormatannya.”</p>
<p>Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu merupakan pengarahan bagi siapa saja yang menghadapi perkara syubhat, untuk meninggalkannya dan tidak menjerumuskan diri kepadanya. Karena perkara syubhat ini jelas meragukan. Sedangkan dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu kepada perkara yang tidak meragukan.” (Riwayat at-Tirmidzi dan dia berkata, hadits hasan shahih)</p>
<p>Dan</p>
<p>, dengan kita menjauhi syubhat, berarti kita telah berusaha menjaga diri kita dari perkara yang haram. Sehingga kita berarti telah membersihkan diri dalam agama, dalam hubungan kita dengan Allah. Dan dengannya kita pun akan terbebas dari pembicaraan manusia akan kehormatan kita. Karena jika kita melakukan perkara yang syubhat, banyak orang akan mengatakan fulan melakukan ini dan itu.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengatakan, “Dan siapa yang terjerumus ke dalam syubhat itu berarti dia terjerumus ke dalam perkara yang haram, seperti seorang penggembala yang menggembalakan (binatang ternaknya) di sekitar daerah terlarang, hampir-hampir dia akan masuk menggembalakan (binatang ternaknya) di daerah tersebut.”</p>
<p>Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dijelaskan oleh para ulama dengan dua kemungkinan makna.</p>
<p>Pertama, orang yang masuk ke dalam syubhat, berarti dia telah melakukan perkara yang haram. Karena dengan terjerumusnya dia ke dalam syubhat berarti dia telah melakukan suatu hal yang tidak didasari dengan ilmu. Dan perbuatan ini jelas diharamkan oleh Allah. Padahal adanya syubhat padanya menunjukkan bahwa dia tidak memiliki ilmu yang pasti tentangnya.</p>
<p>Makna kedua, masuknya seseorang ke dalam syubhat adalah jalan kepada perkara yang haram. Yakni, ketika dia bermudah-mudah dalam perkara syubhat, dikhawatirkan dia akan terjerumus ke dalam perkara yang haram dan meremehkannya. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar daerah larangan, sangat dikhawatirkan ternaknya akan masuk ke daerah larangan tersebut.</p>
<p>Apapun kemungkinan maknanya, yang jelas di sini adalah petunjuk bagi kita untuk meninggalkan segala perkara yang syubhat, yang meragukan, sehingga kita benar-benar mengetahui hukumnya secara yakin. Dan Allah lah satu-satunya Dzat yang memberikan taufiq.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ashshuhuf.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ashshuhuf.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ashshuhuf.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ashshuhuf.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ashshuhuf.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ashshuhuf.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ashshuhuf.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ashshuhuf.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ashshuhuf.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ashshuhuf.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ashshuhuf.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ashshuhuf.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ashshuhuf.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ashshuhuf.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashshuhuf.wordpress.com&amp;blog=30493027&amp;post=23&amp;subd=ashshuhuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ashshuhuf.wordpress.com/2012/01/23/halal-haram-dan-syubhat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3314e4ff2752fdd054f78380ad7abd6f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ashshuhuf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DUA PELAJARAN DI BALIK PERJANJIAN</title>
		<link>http://ashshuhuf.wordpress.com/2012/01/03/dua-pelajaran-di-balik-perjanjian/</link>
		<comments>http://ashshuhuf.wordpress.com/2012/01/03/dua-pelajaran-di-balik-perjanjian/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 09:54:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ashshuhuf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ashshuhuf.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[عَن اَبِي اِسْحَاق قَال: سَمِعْتُ الْبَرَّاء بن عَازب يَقُولُ: كَتَبَ عَلِيّ بن اَبِي طَالِب الصُلْحَ بَيْنَ النّبِي صَلى الله عليه وسلم وَبَيّنَ المُشْرِكِيْنَ يوم اْلحُدَيْبِيَّة فَكَتَبَ: (هَذَا مَا كَاتَبَ عَلَيهِ مُحَمَّد رَسُولُ الله) فَقَالُوا: لَاتَكْتُبْ رَسُول الله, فَلَوْ نَعْلَم اَنَّكَ رَسُول الله لمَََْ نُقَاتِلكَ. فقال النبي صلى الله عليه وسلم لعلي: (اُمْحُهْ) فَقَالَ: مَا اَنَا [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashshuhuf.wordpress.com&amp;blog=30493027&amp;post=18&amp;subd=ashshuhuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>عَن اَبِي اِسْحَاق قَال: سَمِعْتُ الْبَرَّاء بن عَازب يَقُولُ: كَتَبَ عَلِيّ بن اَبِي طَالِب الصُلْحَ بَيْنَ النّبِي صَلى الله عليه وسلم وَبَيّنَ المُشْرِكِيْنَ يوم اْلحُدَيْبِيَّة فَكَتَبَ: (هَذَا مَا كَاتَبَ عَلَيهِ مُحَمَّد رَسُولُ الله) فَقَالُوا: لَاتَكْتُبْ رَسُول الله, فَلَوْ نَعْلَم اَنَّكَ رَسُول الله لمَََْ نُقَاتِلكَ. فقال النبي صلى الله عليه وسلم لعلي: (اُمْحُهْ) فَقَالَ: مَا اَنَا بِالَّذِي اَمْحَاهُ. فَمَحَاهُ النَّبِي صلى الله عليه وسلم بِيَدِهِ. (رواه مسلم)<br />
“Dari Abi Ishaq berkata : aku mendengar Bara’ bin Azib berkata: ketika Ali bin Abi Tholib menulis perjanjian perdamaian antara Nabi Sholallahu alaihi wasallam dengan kaum musyrikin di tanah hudaibiyah kalimat: (ini dari Muhammad Rosulullah) kaum musyrikin (Suhail bin Amr) berkata: “jangan tulis Rasulullah, jika kami tahu bahwa Muhammad adalah utusan Allah kami tak akan memeranginya” maka Nabi Sholallahu alaihi wasallam bersabda pada Ali: (hapuslah kalimat Rasulullah). Ali menjawab: saya tidak mau menghapus kalimat itu ya Rasulullah. Maka Nabi Sholallahu alaihi wasallam menghapus kalimat tersebut dengan tangan beliau. ( H.R. Muslim)<br />
Perjanjian hudaibiyah yang lebih di kenal dengan sulhul hudaibiyah terjadi pada tahun ke 5 setelah hijrah pada bulan Dzul Qo’dah. Peristiwa itu terjadi ketika umat mauslimin mau melaksanakan umrah di makkah, karena Nabi Sholallahu alaihi wasallam mempunyai pirasat lewat mimpi beliau bahwa pada tahun itu beliau di perkenankan menuju makkah untuk melaksanakan umroh bersama kaum muslimin. Ketika rombongan kaum muslimin sampai di tempat yang bernama hudaibiyah mereka di hadang oleh sekelompok kaum musyrikin mekah yang dipimpin oleh Suhail bin amr’, maka terjadilah dialog antara suhail dan Rasulullah yang menghasilkan perjanjian perdamaian selama sepuluh tahun.<br />
Beberapa kali Suhail menolak kalimat yang di tetapkan Rasul diantaranya ketika Rasul menyuruh Ali menulis kalimat “Rasulullah” setelah kata Muhammad akan tetapi Suhail meminta di ganti dengan “ Muhammad anak Abdullah”, dan Rasul Sholallahu alaihi wasallam menurutinya, sehingga beberapa sahabat merasa geram dengan tingkah Suhail. Ali pun menolak perintah Nabi untuk menghapus kata Rasulullah dan akhirnya Nabi Sholallahu alaihi wasallam menghapus sendiri kalimat tersebut dengan tangan beliau setelah meminta Ali untuk memberitahukan letak kata tersebut, karena Nabi Sholallahu alaihi wasallam adalah seorang ummi (tak bisa menulis dan membaca).<br />
Perjanjian hudaibiyyah adalah ujung tombak terjadinya fathul makkah (penaklukkan tanah makah) meski kelihatanya banyak hal yang tidak menguntungkan kaum muslimin kalau di lihat dengan mata kasat mata, padahal apa sih yang tidak baik kalau Rasulullah sudah menetapkan? karena Dalam Al Qura’an sudah di jelaskan bahwa semua yang di sampaikan oleh nabi adalah bukan dari hawa nafsu beliau tetapi semuanya adalah dari Allah Ta’ala (An Najm :3-4). Jadi sangat tidak mungkin jika keputusan yang di ambil beliau akan merugikan islam.<br />
Lalu apa keuntunganya? Salah satunya adalah membuka peluang umat islam untuk leluasa dalam berdakwah tanpa khawatir gangguan dari kafir quraisy mekkah, terbukti dengan pengiriman-pengiriman surat ajakan memeluk agama islam kepada raja-raja di sekitar Madinah seperti Raja Hiraclius, walaupun tak semua Raja menerima dengan baik. Keuntungan lain adalah umat islam bisa dengan bebas masuk ke makkah dan berdakwah bil hal (tingkah laku), dakwah bil hal bisa di katakan dakwah yang sangat menyejukkan serta lebih mengena dari pada sekedar ceramah-ceramah, sehingga tidak sedikit orang Quraisy yang masuk islam.<br />
Bagi seorang da’i seharusnya tidak mementingkan pengajian-pengajian dengan menafikan tingkah laku, karena kebanyakan orang bisa terbawa dengan adab-adab keseharian kita. Betul, banyak orang yang tertegun dengan kelihaian dan kefasihan ucapan kita, tapi apa gunanya jika itu semua tidak di dukung dengan baiknya tingkah laku kita, jangan sampai kita tergolong orang yang di isyaratkan Nabi Sholallahu alaihi wasallam 14 abad yang lalu, yaitu orang-orang yang hapal Al Qur’an dan hadist akan tetapi tidak melebihi batas tenggorokanya. Sehingga hatinya gelap yang menjadikanya sibuk menyalahkan orang bahkan mengkafirkan orang islam hanya karena kesalahan yang sepele, bukanya sibuk mengislamkan orang kafir, sangat ironi!. Jadi pelajara pertama adalah mengalah untuk menuju kemanangan besar.<br />
“Ya Rosul Aku tidak mau menghapus kalimat ini” jawab Ali bin Abi Tholib kepada Nabi Sholallahu alaihi wasallam.<br />
Kenapa Ali bin Abi Tholib menolak? Pelajaran apa yang perlu kita teladani? Apakah sikap pembangkangan Ali bin Abi Tholib kepada Nabi Sholallahu alaihi wasallam, padahal Ali adalah shahabat terdekat Nabi bahkan dia adalah menantu beliau? Barang tentu bukan, mari kita telaah sebuah pepatah ِِِArab.<br />
قَدْ يَكُوْنُ الْقِيَام بِالاَدَبِ مُقَدَّمًا عَلَى اْلاِمْتِثَالِ بِاْلاَمْرِ ِلاَمْرٍ مًا<br />
“dahulukan adab dari perintah”<br />
Dan itu yang di lakukan Ali bin Abi Tholib, tak mungkin seseorang yang di juluki pintunya ilmu bertidak tanpa alasan, beliau bertindak lebih mendahulukan adab dari pada perintah, hal yang sama juga pernah di lakukan oleh Sahabat Abubakar As Shidik, beliau menolak perintah Nabi Sholallahu alaihi wasallam untuk meneruskan menjadi imam pada saat Rasulullah datang di pertengahan sholat dengan mengatakan “pantaskah anak abi kuhafah menjadi imam?” (di saat ada Nabi).<br />
Hidup tak hanya dengan ilmu, ilmu tanpa adab bagai adonan tanpa garam, adab adalah bagaikan penyedap pada masakan. Bila seseorang berilmu tinggi tapi tidak mempunyai adab itu akan berakibat dia tidak mempunyai rasa hormat pada gurunya dan menjadikan ilmunya jauh dari berkah, bukanya menjadi penerang malah menjadi fitnah yang sangat berbahaya. Sehingga banyak fenomena yang terjadi di zaman sekarang murid menyalahkan gurunya, Naudzubillah min dzalik!. Lebih memprihatinkan lagi dengan adanya pergerakan pengibar HAM yang selalu menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia tapi tak melihat dimana harus menempatkannya. Banyak terjadi penuntutan murid kepada guru hanya gara-gara guru melempar penghapus karena ulah murid yang begal, dan bahkan terjadi juga anak menuntut orang tua karena pukulan yang memerintahkan sholat. Lalu bagaimana kita harus mendidik?, didalam hadis sudah di perintahkan jika dalam usia 10 tahun anak tidak mau beribadah maka harus dipukul (untuk mendidik). Jika yang seperti itu tidak boleh lalu yang bagaimana?.<br />
(Misyar Ulum Ahmad, santri Ma’had Nurul Haromain Pujon)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ashshuhuf.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ashshuhuf.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ashshuhuf.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ashshuhuf.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ashshuhuf.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ashshuhuf.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ashshuhuf.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ashshuhuf.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ashshuhuf.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ashshuhuf.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ashshuhuf.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ashshuhuf.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ashshuhuf.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ashshuhuf.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashshuhuf.wordpress.com&amp;blog=30493027&amp;post=18&amp;subd=ashshuhuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ashshuhuf.wordpress.com/2012/01/03/dua-pelajaran-di-balik-perjanjian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3314e4ff2752fdd054f78380ad7abd6f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ashshuhuf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Visi Pendidikan Islam</title>
		<link>http://ashshuhuf.wordpress.com/2011/12/20/visi-pendidikan-islam/</link>
		<comments>http://ashshuhuf.wordpress.com/2011/12/20/visi-pendidikan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 03:55:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ashshuhuf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ashshuhuf.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Syekh Musthofa Al-Gholayain menyitir semboyan: “Di tangan kamu (wahai para pemuda) urusan masa depan bangsa dan di telapak kakimu pula kehidupan bangsa itu.” Ungkapan ulama Mesir yang produktif ini menggambarkan bahwa maju mundurnya suatu bangsa tidak lepas dari keberadaan pemuda (manusia berumur 15-40 tahun). Jika pemuda di suatu bangsa kuat maka bangsa itu kelak akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashshuhuf.wordpress.com&amp;blog=30493027&amp;post=16&amp;subd=ashshuhuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syekh Musthofa Al-Gholayain menyitir semboyan: “Di tangan kamu (wahai para pemuda) urusan masa depan bangsa dan di telapak kakimu pula kehidupan bangsa itu.” Ungkapan ulama Mesir yang produktif ini menggambarkan bahwa maju mundurnya suatu bangsa tidak lepas dari keberadaan pemuda (manusia berumur 15-40 tahun). Jika pemuda di suatu bangsa kuat maka bangsa itu kelak akan maju dan beradab. Sebaliknya bila pemudanya lemah-lemah maka kelak menjadi lemahlah bangsa tersebut. Bila generasi di suatu bangsa yang diharapkan sebagai penerus sudah bergaul akrab dengan narkotika dan obat-obatan terlarang, bergaya hidup foya-foya, dan berbudaya membuang-buang waktu di satu sisi dan di sisi lain dekadensi (kemerosotan) moral mendominasi diri mereka, maka agaknya bisa diprediksi apa akibat yang tidak lama akan menimpa bangsa itu. Jauh-jauh hari Allah swt melalui kitab suci Al-Qur’an telah memperingatkan, yang artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah (cemas) orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan mereka). Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S. An-Nisaa’: 9) Ayat tersebut secara tersirat menyeru agar tidak meninggalkan sosok generasi yang lemah, mengkhawatirkan, dan mencemaskan. Kelemahan dalam hal ini ada dua segi, yaitu lemah segi fisik dan materi seperti lemah ekonomi dan tidak terampil serta lemah segi mental spiritual dengan tampilnya generasi yang membelakangi agama dan kebenaran. Rasulullah saw bersabda, yang artinya: “Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah.” (H.R. Muslim) Namun bila dua segi kelemahan itu ditimbang maka kelemahan yang paling krusial adalah kelemahan di bidang mental spiritual. Dalam hal ini kekuatan mental spiritual (al-quwa ar-ruhiyah) jauh lebih fondamental daripada sekadar kekuatan fisik dan materi (al-quwa al-maaddiyah wa al-maknawiyah). Secara faktual, kekuatan iman Islam jauh lebih penting dibanding kekuatan bangunan dan senjata, seperti dibuktikan kisah peperangan Badar dalam sejarah Islam dan peristiwa 10 Nopember dalam sejarah lokal. Walaupun kekuatan terakhir ini tetap tidak boleh diabaikan. Bukti fundamentalnya kekuatan mental spiritual bisa disaksikan dalam kehidupan sehari-hari. Allah swt berfirman dalam Al Quran, yang artinya : “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizqi kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (Q.S. Al-Israa’: 31) Rasulullah saw bersabda: “Orang kuat bukanlah orang yang bisa sekian banyak orang, tetapi dia yang mampu menguasai diri di saat emosi.” (H.R. Muslim) Sementara itu kuat dan lemahnya suatu generasi banyak ditentukan oleh faktor pendidikan. Pendidikan yang baik melahirkan generasi yang baik. Pendidikan yang bobrok menumbuhkan generasi yang bobrok pula. Tidak mungkin tumbuh generasi baik tanpa ditunjang sistem pendidikan yang baik pula. Disinilah tampak mengapa bangsa itu lemah secara fisik atau bangsa itu lemah secara mental spiritual semata-mata karena faktor pendidikan terabaikan. Khususnya pendidikan mental yang dapat memperkokoh keimanan kepada Allah swt di samping integritas yang tinggi (akhlak) dalam bergaul antar sesama manusia, karena pendidikan mental menjadi pondasi pendidikan bidang-bidang yang lainnya. Atas dasar ini agama Islam amat menekankan pentingnya pendidikan. Agama yang paripurna ini menyeru untuk menuntut ilmu. Bahkan seruan menuntut ilmu itu hukumnya fardlu. Sabda Rasulullah saw: “Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap orang Islam.”(H.R. Ibnu Majah dan Ibnu Abdil Barr) Untuk mengetahui seberapa apresiasi Islam terhadap seruan menuntut ilmu, bisa dilihat karakteristik generasi Islam pertama, para sahabat Nabi saw. Mereka bersemangat mengejar kebaikan, bersungguh-sungguh di dalam menerima ilmu, sekaligus mengamalkan, mensyiarkan, dan menyebarkannya. Para sahabat tetap bersemangat belajar, sementara usia mereka senja, sebagaimana diungkapkan oleh Al-Bukhari pada bab ghibthah (iri hati yang positif) terhadap ilmu dan hikmah, dan para sahabat Rasulullah saw belajar, sedang usia mereka senja. (Lihat Shahih Bukhari I : 28). Para sahabat menempuh perjalanan jauh untuk menuju kediaman Rasulullah saw apabila mempunyai problem atau hal-hal yang sult terpecahkan. Mereka menuju Madinah untuk mendapatkan status hukum Allah sawt atas kasus atau problem yang mereka alami. Kadangkala perjalanan itu harus ditempuh sekian hari dan sekian malam. Para sahabat senantiasa memberikan perhatian penuh terhadap ilmu, hafalan, dan pengulangan pelajaran yang disampaikan kepada mereka. Sahabat Abu Said Al-Khudri bercerita: “Sahabat-sahabat Rasulullah saw ketika duduk, mereka bercakap-cakap. Materi percakapan mereka adalah fiqh. Bila tidak, maka mereka menyuruh seseorang untuk membaca satu surat AL-Qur’an.” Para sahabat juga memberikan perhatian terhadap pendidikan kalangan wanita, golongan budak perempuan, dan tetangga-tetangga mereka. Mereka seluruhnya berkonsentrasi pada ilmu, baik yang berstatus kerja maupun tidak. Pedagang di kalangan sahabat berstatus pelajar dan pelajar di antara mereka berstatus pedagang. Mereka serius di dalam menghafal dan mengkaji apa yang didengar dari Nabi saw. Bila mendengar ilmu yang belum dipahami, mereka minta diulang sehingga mereka benar-benar memahaminya. Sahabat Anas bin Malik ra berkata: “Sesungguhnya fulan mengulang pelajaran, kemudian disusul fulan yang lain, maka kami berdiri seakan-akan pelajaran sepertinya ditanamkan pada lubuk hati kami.” Jika Nabi saw tidak datang, para sahabat secara aktif mengulang hadits di antara mereka (muraja’ah). Jadwal belajar sahabat pun ditetapkan sedemikian rupa sebagaimana khusus kalangan sahabat wanita juga memiliki jadwal belajar tersendiri. Jauh-jauh hari generasi sahabat telah menerapkan sistem: “Life long education” (pendidikan sepanjang umur) dengan semboyan yang sangat terkenal: “Uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi,” (tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahad). Visi pendidikan Islam bisa digambarkan seperti segitiga. Dua garis vertikal (tegak) dan bertemu pada satu titik serta satu garis horisontal (mendatar). Garis vertikal pertama menggambarkan bahwa ilmu seluruhnya datang dari Allah swt. Apakah itu ilmu agama atau apakah itu ilmu umum. Allah-lah yang mendidik ilmu pertama kali kepada Nabi Adam as, bapak para manusia, yang menjadikannya unggul melebihi para malaikat. Ini tersirat dari firman Allah sw, yang artinya: “Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!.” (Q.S. Al-Baqarah: 31) Sedang garis vertikal kedua mengggambarkan seruan untuk membaca (iqro’) dengan segala aktivitas dan dinamikanya. Dan iqro’ itu hendaknya menyertakan “bismi robbika” (dengan menyebut asma Tuhanmu, Allah swt) Dalam aktivitas membaca, ingat dan merenungkan ayat-ayat Allah swt. Dalam membaca apa saja. Ikhlas. Tidak melalaikan-Nya. Aktivitas iqro dengan menyebut asma Allah swt ini menjadi penting karena tersurat dalam Q.S. Al-Alaq ayat 1 yang merupakan wahyu pertama yang diturunkan pertama kali kepada Rasulullah saw. “Bacalah dengan menyebut asma Tuhanmu Yang menciptakan.” (Q.S. Al Alaq: 1) Dari dua ayat tersebut, dua garis vertikal itu akan bertemu. Sebagai titik temu di sini adalah Allah swt. Ayat pertama menerangkan ilmu seluruhnya datang dari Allah swt dan ayat kedua menyerukan membaca dengan menyertakan asma Allah swt. Jadi menurut falsafah itu ilmu harus terus dipacu, namun bersama itu harus diinsafi dan direnungkan bahwa di sana ada Allah swt Dzat Yang Memberi ilmu dan menciptakan perangkat berfikir untuk memproses ilmu itu. Atau ilmu apa saja yang dikejar, target tertinggi (ghoyah) yang harus dicapai ialah Allah swt. Alangkah indahnya bila kita belajar atau mengajar biologi, fisika, kimia, matematika, bahasa, atau sejarah misalnya, dan kita selalu mengingat Allah swt. Mungkin itu bisa menjadi jalan terobosan yang bisa ditempuh menuju dekat kepada Allah swt. (posisi kewalian) sejajar dengan jalan terobosan yang lain seperti banyak berinfaq, rutin berdzikir, gemar membaca Al-Qur’an, dsb. Dan saat belajar agama mengingat Allah swt itu menjadi hal yang sudah sepantasnya. Terlaknat belajar agama sedang motivasinya selain Allah swt. Garis dalam segitiga berikutnya ialah satu garis horisontal (garis mendatar). Garis ini menggambarkan emosi manusia. Emosi manusia hendaknya datar (stabil). Dan kalau faktor dalam dua garis vertikal di muka sudah dipenuhi agaknya mudah membangun dengan baik emosi secara datar. Menjadi manusia yang walaupun tinggi ilmu namun tetap rendah hati dan santun. Tidak arogan tidak juga iri dengki. Meski intelek, tetap ramah, cinta kasih, lemah lembut, dan kasih sayang. Inilah belakangan yang disebut dengan EQ (Emotional Quotient) atau derajat emosi (perasaan). Dari visi pendidikan ini Islam membentuk sosok generasi yang sholeh sholehah. Ukuran kesholehan yang mendasar pertama kali adalah keimanan dan keislaman. Alangkah bahagianya orangtua yang memiliki anak-anak yang sholeh sholihah. Kebahagiaan ganda duniawi dan ukhrawi. Rasulullah saw bersabda, yang artinya: “Jika manusia mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya.” (H.R. Abu Dawud III : 117 hadits nomor 2880) Di samping orangtua bahagia, masyarakat juga merasa tenteram bila bergaul bersama anak-anak yang sholeh sholehah. Mereka tidak merepoti dan membebani, justru membantu. Karena anak-anak yang sholeh sholehah bergantung penuh kepada Allah swt. Dan Allah swt sendiri menjamin perawatan mereka. Atas dasar ini khalifar Umar bin Abdul Azis menjelang wafat tidak mencemaskan putera puterinya walaupun tidak mewariskan harta sepeser pun kepada mereka karena beliau telah membekali mereka dengan kesholehan diri. Dalam Al Qur’an dinyatakan: “Sesungguhnya pelindungku ialah Allah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia merawat orang-orang yang sholeh.” (Q.S. Al A’raaf: 196) Bumi seisinya ini semestinya adalah harta warisan milik generasi yang sholeh sholehah yang akan merawat bumi seisinya dengan sebaik-baiknya. Bukankah bumi rusak saat dikelola generasi yang tidak sholeh sholehah, generasi yang amoral, tidak beriman, durhaka, dan kufur? Allah swt berfirman, yang artinya : “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) lauhul Mahfudz, bahwasanya bumi ini dipusakai oleh hamba-hamba-Ku yang sholeh.” (Q.S. Al Anbiyaa’: 105) Maka kesadaran menerapkan visi pendidikan Islam dalam sistem pendidikan lokal, nasional, maupun skala apa saja rasanya sangat perlu dan mendesak agar terbentuk sosok generasi sholeh sholehah sebelum terlambat. Niscaya kita akan selamat dunia dan akhiratnya, Amin. (http://warungbaca.wordpress.com)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ashshuhuf.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ashshuhuf.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ashshuhuf.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ashshuhuf.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ashshuhuf.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ashshuhuf.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ashshuhuf.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ashshuhuf.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ashshuhuf.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ashshuhuf.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ashshuhuf.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ashshuhuf.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ashshuhuf.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ashshuhuf.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashshuhuf.wordpress.com&amp;blog=30493027&amp;post=16&amp;subd=ashshuhuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ashshuhuf.wordpress.com/2011/12/20/visi-pendidikan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3314e4ff2752fdd054f78380ad7abd6f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ashshuhuf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenalkan Alloh Kepada Anak Melalui Membaca</title>
		<link>http://ashshuhuf.wordpress.com/2011/12/15/hello-world/</link>
		<comments>http://ashshuhuf.wordpress.com/2011/12/15/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 06:52:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ashshuhuf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ashshuhuf.wordpress.com/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Wahyu pertama yang diterima oleh Rosululloh saw adalah perintah untuk membaca, yang langsung  dikaitkan dengan niat untuk menyebut nama Alloh Yang Menciptakannya. Iqra’ bismirabbikal ladzi khalaq (bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu). Oleh karena itu pengenalan anak akan aktivitas mem-baca, pada saat yang bersamaan harus dibarengi dengan pengenalan akan kemahabesaran Alloh swt. Membaca dalam hal ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashshuhuf.wordpress.com&amp;blog=30493027&amp;post=1&amp;subd=ashshuhuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wahyu pertama yang diterima oleh Rosululloh saw adalah perintah untuk membaca, yang langsung  dikaitkan dengan niat untuk menyebut nama Alloh Yang Menciptakannya. Iqra’ bismirabbikal ladzi khalaq (bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu). Oleh karena itu pengenalan anak akan aktivitas mem-baca, pada saat yang bersamaan harus dibarengi dengan pengenalan akan kemahabesaran Alloh swt. Membaca dalam hal ini dilakukan dalam kerangka ilahiah, dengan maksud dan tujuan penghambaan kepada Sang Khalik. Banyak hikmah yang bisa diambil kenapa Alloh swt menurunkan wahyu yang pertama adalah perintah untuk membaca, salah satunya adalah umat Islam diperintahkan untuk pandai, cerdas dan peka membaca fenomena alam yang terjadi dilingkungannya dengan tujuan akhir untuk berma’rifat kepada Allah.</p>
<p>Upaya yang mesti dilakukan oleh keluarga muslim untuk mengenalkan anak-anaknya akan Sang Pencipta perlu dilakukan sejak usia dini. Hal ini bisa dilakukan dalam berbagai kesempa-tan dan kegiatan, baik yang formal atau nonfor-mal. Pengenalan Alloh dapat dilakukan melalui fenomena alam yang dilihat langsung oleh anak, seperti pegunungan, langit, matahari, laut, bumi, manusia, termasuk dirinya sendiri dsb. Pengenalan melalui media yang langsung dapat dilihat dan dirasakan oleh indera anak akan membekas dan berkesan bagi anak. Karena pd usia ini kemampuan anak untuk mengenal Alloh akan mengalami kesulitan jika digunakan pen-dekatan rasio atau logika, karena anak belum mampu dan keterbatasan anak akan maklumat/pengetahuan awal yang dimiliki.</p>
<p>Tahapan awal yang perlu ditempuh adalah memperbanyak kosa kata pada anak yang ber-kaitan dengan hal-hal yang langsung bisa dilihat atau dirasakan. Bisa dimulai dari dirinya sendiri, kemudian alam semesta dan lingkungan diseki-tar anak. Intinya anak lebih banyak diberi infor-masi tentang alam dan lingkungan sebanyak-banyaknya. Semakin banyak informasi yang masuk ke dalam otak, akan semakin luas cakra-wala berfikir dan kemampuan logikanya.</p>
<p>Cara memasukkan informasi atau kosa-kata kepada anak, bisa ditempuh melalui :</p>
<p><strong><em>Pertama;</em></strong> orang tua/pendidik berusaha untuk selalu mengajak bicara baik dengan metode pemberitaan, tanya jawab atau diskusi mengenai hal-hal yang berada disekeliling anak. Bahkan ketika anak masih dalam kandungan-pun, dialog bisa dilakukan seolah-olah bayi kita ajak bicara. Atau memperdengarkan kepada bayi kaset-kaset rekaman yang berdimensi ilahiyah atau ceramah keagamaan. Karena hal ini tidak terlepas dari tujuan pendidikan Islam, yaitu mengenalkan anak kepada kebesaran dan keesaan Alloh. Adapun tujuan memperdengar-kan musik/nyanyian yang Islami kepada bayi untuk merangsang perkembangan saraf moto-rik otak anak . Saraf inilah yang mendorong kecerdasan atau berfikir manusia. Hal ini telah dibuktikan oleh para ahli psikologi anak. Dan cara ini bisa diterapkan kepada anak usia balita. Mereka akan cepat merespon nyanyian-nyanyian yang didengar, yang bisa dilihat dari kelaku-an anak saat mendengarkan nyanyian yang dia dengar. Kesempatan seperti harus kita manfaat-kan dengan sebaik-baiknya untuk memasukkan nilai-nilai ilahiyah kepada anak-anak.<strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em>Kedua;</em></strong> membaca buku-buku cerita didepan anak, supaya anak semakin banyak menerima informasi kosa kata yang belum pernah dia dengar. Di samping itu anak terlatih untuk me-nyimak makna bacaan yang kita baca serta me-mahami nilai-nilai yang terkandung di dalam cerita tersebut. Pilihlah buku cerita yang mena-rik dan mempunyai pesan moral kepada anak. Di sisi lain, pembiasaan pembacaan buku cerita di depan anak adalah memberikan teladan kepa-da anak agar senang membaca buku atau cerita.<strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em>Ketiga;</em></strong> membelikan buku-buku cerita ber-gambar kepada anak. Hal ini dilakukan karena umumnya anak senang terhadap cerita bergam-bar, apalagi jika berwarna-warni. Carikan buku bergambar yang mempunyai pesan moral, misal gambar anak perempuan yang mengenakan jilbab, ngaji, sholat,belajar, menolong orang lemah, menyapu, membantu orang tua. Pesan moral melalui media gambar yang berwarna-warni ini akan membawa daya tarik sendiri pada anak, yang diikuti penjelasan dari orang tuanya. Ini akan merangsang anak senang thdp buku.<strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em>Keempat;</em></strong> menghiasi kamar anak-anak dgn gambar atau huruf . Hal ini dilakukan agar anak terbiasa dengan keindahan dan juga proses pembelajaran. Lebih baik lagi jika gambar/huruf yang ditempelkan berwarna-warni, serta ditata dengan artistik yang baik, alangkah baiknya jika gambar/huruf sering diganti dengan gambar/huruf yang lain agar tidak membosankan bagi anak-anak. Disinilah kesempatan bagi orang tua untuk memasukkan pesan-pesan moral dan nilai-nilai ilahiyah kepada anak-anak. Misalnya setiap kali mau berangkat tidur, dampingilah anak untuk berdo’a dan ajak bercerita tentang gambar yang ditempel di dinding, atau sambil menghafalkan huruf-huruf hijaiyah/latin.</p>
<p><strong><em>Kelima;</em></strong> membawa anak ke toko buku atau perpustakaan. Hal ini juga perlu dilakukan agar anak terbiasa dengan buku baik cerita/bacaan. Ajaklah anak melihat-lihat buku yang merang-sang kemauan anak agar lebih mencintai buku. Dalam hal ini berilah kebebasan kepada anak untuk memilih buku yang menjadi kesenangan-nya, dengan catatan buku yang tidak merusak akhlaq atau aqidah anak-anak. Jika anak sudah sedikit bisa membaca, berikan kepadanya buku bergambar yang ada tulisannya. Lebih baik jika tulisannya agak besar dan bervariasi.</p>
<p><strong><em>Keenam;</em></strong> buatkan perpustakaan bagi anak. Tujuannya untuk merangsang anak menyukai buku dan menjadikan buku sebagai sahabatnya. Perpustakaan anak tidak perlu besar, yang pen-ting tertata rapi, indah dan menyenangkan. Bu-kunya pun tidak harus yang baru apalagi mahal, yang penting adalah bersih, rapi dan mempu-nyai pesan moral. Isilah dengan buku cerita yang mendidik, misalnya kisah  Rosululloh saw, sahabat, ulama atau para syuhada. Juga buku-buku ilmu pengetahuan yang bergambar, misalnya tentang dunia flora dan fauna.</p>
<p><strong><em>Ketujuh;</em></strong> jika anak sudah mampu membaca, ajak berdiskusi/membacakan salah satu cerita buku, untuk melatih anak memahami isi buku juga meningkatkan kegemaran membaca pada anak. Simak saat anak membaca buku, sehing-ga merasa dihargai. Kemudian suruh anak utk menceritakan kembali tanpa buku, tentang alur cerita buku tersebut. Ini melatih anak untuk menangkap dan mengingat-ingat kembali cerita buku tersebut. Dan melatih anak untuk meng-hafal. Kemudian diskusikan isi buku tersebut dengan anak tentang hikmah, nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut. Di saat ini masukkan nilai moral buku tersebut.<strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em>Kedelapan;</em></strong> jika anak sudah gemar membaca, beri kepercayaan untuk menulis ringkasan dari isi buku bacaan tersebut, untuk melatih anak mampu memahami isi global bacaan tersebut dan mengambil hikmah dari bacaan. Juga anak terlatih untuk menuangkan buah fikirannya ke dalam bentuk tulisan atau karangan. Kemampuan ini akan muncul manakala anak sudah terbiasa dengan bacaan dan meringkas isi seluruh buku. Arahkan terus anak agar senang menulis atau menuangkan buah fikirannya.</p>
<p><strong><em>Kesembilan;</em></strong> jika anak sudah mampu menuangkan buah fikirannya, suruhlah anak membuat tulisan lepas. Berikan tema/judul karangan yang akan ditulis oleh anak. Bimbinglah cara menulis sebuah karangan/tulisan yang baik. Biarkan anak menuliskan idenya. Berikan peni-laian terhadap tulisan serta berikan masukan-masukan yang baik kepada anak.<strong><em></em></strong></p>
<p>Semua tahapan tersebut tidak lepas dari peran orang tua dalam membimbing dan mengarahkan anak. Dalam setiap tahapan masukkan nilai-nilai ilahiyah dan pesan moral kepada anak. Kehangatan dan kasih sayang orang tua sangat dibutuhkan anak dalam hal ini.</p>
<p>( Ayyub Syafi’I, Guru IT SMK Nurul Haromain, Pujon, Malang)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ashshuhuf.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ashshuhuf.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ashshuhuf.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ashshuhuf.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ashshuhuf.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ashshuhuf.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ashshuhuf.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ashshuhuf.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ashshuhuf.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ashshuhuf.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ashshuhuf.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ashshuhuf.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ashshuhuf.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ashshuhuf.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ashshuhuf.wordpress.com&amp;blog=30493027&amp;post=1&amp;subd=ashshuhuf&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ashshuhuf.wordpress.com/2011/12/15/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3314e4ff2752fdd054f78380ad7abd6f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ashshuhuf</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
